Senin, 24 Februari 2025

Lukisan Tikus dalam Garuda : Kritik Pedas Rokhyat terhadap Korupsi di Indonesia


 Lukisan TIkus Dalam Garuda:  Apa arti dari lukisan Tikus dalam Garuda ini ?


 Sebuah lukisan berjudul “Tikus dalam Burung Garuda”  karya seniman Rokhyat memantik diskusi di ruang publik. Lukisan yang menampilkan lambang negara Indonesia itu disajikan dengan elemen tak biasa: gerombolan tikus bersarang di dalam tubuh Garuda.


>> Baca Selengkapnya..







Karya ini pertama kali dipamerkan dalam pameran seni “Ironi Negeri”  di Jakarta, awal Februari 2025. Lewat lukisannya, Rokhyat menyentil realitas sosial-politik Indonesia, khususnya soal korupsi yang menggerogoti sendi-sendi pemerintahan. Dalam budaya Indonesia, tikus kerap menjadi simbol kerakusan dan praktik curang. Pesan yang disampaikan Rokhyat sejalan dengan realitas politik belakangan ini. Sejumlah kasus korupsi besar mencuat ke publik, menguatkan kesan bahwa praktik penyalahgunaan kekuasaan masih mengakar dalam birokrasi.

Lukisan “Tikus dalam Burung Garuda”  sontak menuai beragam respons. Ada yang mengapresiasi sebagai kritik tajam, ada pula yang menilai terlalu frontal. Namun bagi Rokhyat, seni harus berani bicara.

Pameran “Ironi Negeri” masih berlangsung hingga akhir Februari. Dalam ruangan yang remang, “Tikus dalam Burung Garuda”  terpajang di tengah, seolah mengajak setiap pengunjung merenungkan: masihkah kita bangga pada Garuda yang diam-diam digerogoti tikus?.

Minggu, 23 Februari 2025

Band Sukatani Lagu Bayar Bayar Bayar Kritik Tajam Polisi

 


KapolriListyo Sigit Prabowo menanggapi lagu "Bayar Bayar Bayar" oleh Sukatani, yang lirik lagunya dinilai berisi kritik tajam pada polisi

















SAPPORO88Jakarta - Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menanggapi lagu “Bayar Bayar Bayar” yang dilantunkan Sukatani, yang lirik lagunya dinilai berisi kritik tajam terhadap polisi.

Setelah viralnya lagu tersebut, tiba-tiba grup band bergenre punk asal Purbalingga itu menarik lagu hits mereka dari semua platform pemutar musik, sehingga muncul dugaan ada tekanan.

Pengumuman penarikan lagu itu disampaikan oleh personel band Sukatani di akun media sosial @sukatani.band pada Kamis, 20 Februari 2025. Dalam unggahan itu, dua personil Sukatani, Muhammad Syifa Al Lufti (gitaris) dan Novi Citra Indriyati (vokalis) menyatakan permintaan maafnya kepada Kapolri dan institusi kepolisian.

Mereka tampil tanpa topeng, sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Kedua personel Sukatani memang memilih untuk jadi anonim di depan publik.

“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kapolri dan institusi Polri atas lagu ciptaan kami dengan judul Bayar Bayar Bayar, yang dalam liriknya (ada kata) bayar polisi yang telah kami nyanyikan sehingga viral di beberapa platform media sosial,” kata Lutfi.


Sumber : JABLOG 




Sabtu, 22 Februari 2025

Tagar Indonesia Gelap Jadi Trending di X

Tagar Indonesia Gelap Masih Trending di X, Warganet: Ketika Keadilan Diabaikan, Suara Harus Dilantangkan! 


Tagar Indonesia Gelap yang mulai trending dari hari senin kemarin, masih menjadi perbincangan hangat hingga saat ini, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turun ke jalan.

Tagar Indonesia Gelap sudah menjadi trending topic sejak Senin (17/2/2025) kemarin dan masih bertahan hingga hari ini, Jumat (21/2/2025), khususnya d platform X atau Twitter.


Gelombang protes yang makin meluas membuat tagar ini terus ramai dibicarakan di media sosial dan menjadi bukti kalau masyarakat masih lantang menyuarakan keresahan mereka hingga hari ini.



Beberapa diantaranya menyoroti masalah ekonomi, kebebasan berpendapat, serta kebijakan hukum yang dinilai merugikan masyarakat.

Salah satu akun @bijak*** membagikan utas yang bersi 13 tuntutan demonstran yang turun ke jalan. 

Masyarakat juga saling mendukung agar aksi hari ini berjalan lancar, yang kini melibatkan berbagai elemen, bukan hanya mahasiswa.

Tidak hanya masyarakat umum, sejumlah seniman dan ilustrator juga ikut meramaikan gerakan ini dengan membuat poster yang bertema Indonesia Gelap. Poster-poster ini menyebar luas di media sosial bahkan dicetak untuk dibawa ke aksi demo hari ini.

Dukungan buat aksi ini juga datang dari berbagai kalangan. Pemilik akun centang biru @word*** mencuitkan pesan penyemangat untuk para demonstran serta apresiasi buat tetap bersuara secara online.

"Semangat, jaga diri, dan terima kasih untuk semua teman-teman yang turun ke jalan hari ini. Terima kasih untuk yang berhalangan ikut tapi tetap membantu secara online dan tidak mencibir.

"Ketika keadilan diabaikan, suara harus dilantangkan," cuit @beta*** dengan lantang. 

Tidak cuma ramai di dalam negeri, aksi ini juga dilirik media asing. Beberapa media internasional mulai memberitakan Indonesia Gelap, menyoroti bagaimana rakyat Indonesia menyuarakan aspirasinya.

Munculnya tagar ini menjadi bukti bahwa pentingnya media sosial sebagai alat kontrol sosial. Gerakan ini jadi pengingat kalau suara rakyat tidak bisa diabaikan begitu saja.

Bonus new member spesial

Apresiasi Prabowo Kembalikan 4 Pulau ke Aceh, Sultan Dorong Optimalisasi Potensi Wisata

  Sumber : Jablog88 JABLOG - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin mengatakan keputusan Presiden Prabowo Subianto mengem...